Fc5d9246 681e 4742 Aae7 F52a774f9a20

Bagaimana Membangun Desa Wisata?

Jakarta – Membangun desa wisata, tidak hanya bermodalkan pemandangan indah. Ada beberapa kritertia dan hal-hal penting yang harus diperhatikan.

“Alam, budaya dan kreatif adalah modal untuk desa wisata,” kata Ketua Tim Percepatan Pembangunan Pariwisata Pedesaan dan Perkotaan Kementerian Pariwisata, Vitria Ariani kepada detikTravel baru-baru ini di Lantai 12 Gedung Sapta Pesona, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat.

Wanita yang akrab disapa Ria itu menjelaskan, syukurnya desa-desa di Indonesia sudah diberkahi keindahan alam. Misalnya, berada di atas pegunungan yang memiliki lanskap hijau nan cantik serta berada di pesisir pantai dengan hamparan pasir putih.

Pun soal budaya, banyak desa di Indonesia yang punya budaya begitu kental. Budaya yang masih orisinil dan mampu membuat wisatawan jatuh hati. Di Desa Penglipuran Bali misalnya, warganya masih hidup dengan nilai-nilai budaya luhur.

Desa Penglipuran yang masyarakatnya masih menjaga nilai-nilai kebudayaan Bali (Dikhy Sasra/detikFoto)Desa Penglipuran yang masyarakatnya masih menjaga nilai-nilai kebudayaan Bali (Dikhy Sasra/detikFoto)

 

“Soal alam dan budaya, kita tidak perlu mencemaskan karena desa-desa di Indonesia banyak yang memiliki modal tersebut dan harus dikemas dengan story telling yang bagus. Hanya saja soal kreatif, harus selaras dengan hal-hal yang mensejahterakan alam dan menjadi atraksi yang menarik,” terang Ria.

“Dan untuk membuat hal-hal kreatif, tidak sulit kok. Contoh di Desa Nglanggeran, Gunungkidul dengan kreatifitasnya mereka membuat flying fox untuk menjadi atraksi wisata. Paling gampang, bikin spot selfie,” jelas wanita yang juga pendiri Binus University Cultural and Tourism Research.

Desa Nglinggo di Kulonprogo yang memiliki spot selfie buat wisatawan (Shinta Angriyana/detikTravel)Desa Nglinggo di Kulonprogo yang memiliki spot selfie buat wisatawan (Shinta Angriyana/detikTravel)

Setelah 3 modal tersebut, selanjutnya adalah soal komitmen. Komitmen masyarakat desa dan pemerintahnya untuk menggembangkan dan merawat desanya sebagai desa wisata.

“Harus ada CEO commitment dari kepala desa, Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) dari masyarakatnya dan Genpi (Generasi Pariwisata Indonesia) anak-anak mudanya. Kepala desa bisa meneruskan kepada bupati dan bupati setempat harus mengeluarkan SK untuk desa wisatanya, supaya kami dari pihak Kemenpar bisa mendata dan membantu mempromosikan,” papar Ria.”Harus baik pembangunan, pendanaan dan pengelolaannya untuk menjadi desa wisata,” pungkasnya.

Source :https://travel.detik.com

Search